lebih gelap dari mataku yang terpejam
hendak aku mengenang kenistaan dimasa suram
semua tentang asa ku yang terbungkam
dalam kelam, dalam malam, yang begitu dalam...
dan begitu dalam.....
kembalilah bersama ku wahai malaikat
lepaskan dahaga cinta ku yang mengikat
yang menculikku jauh hingga tersesat
membatasiku berkarya dalam berlapis lapis sekat
memenjaraku dalam mimpi bersama mayat mayat,
berlapis kekejaman merongrong nafas ku disini
menyiksa sejak detik pertama hingga berganti hari
kini...
tak ada lagi lilin kecil yang menyinari
hingga ku merindukanmu peri kecil yang bernyayi
suram nya kerajaan ku
lebih seram dari jurang hati ku
lebih dalam dan gerbang ku dijaga para hantu
bertahta kekejaman dalam pahatan patung batu
yang bisu...
wahai Raja ku...
senandungkan kebebasan di jauhnya tahtaMu
hembuskan semangat kebebasan dari nafasMu
sinari lekuk lemah tubuhku
yang terhempas di penjara ini dan kaku,,,,,
Raja ku, sampaikan cerita tentang peri kecil ku
dengan nyanyian dan puisi indah nya,,,,,
agar dingin penjara ini
tak terlampau menyiksa diri
SAKURA
Sabtu, 20 Oktober 2012
Senin, 08 Oktober 2012
ketika syair perang panjang
ketika barisan sajak, tentang perang panjang itu terkalimatkan
tentang tutur tulus setiap bait yang terangkai suci
mengalirkah filosofi begitu deras
dan menghentak bebatuan di dasar sungai dan ujung terdalam gua
aku merasakan rintik hujan bertasbig disetiap tetes nya
desiran angin bersyukur di setiap hembus nya
instrumen tanpa lirik seakan mengalir begitu indah
mengiringi syair perang panjang yang melantun kejam
telinga pekak oleh tabuhan genderang punggawa pertempuran
mata ini kan terus menangis mengenang prajurit demi prajurit
yang merenggan nyawa di tengah rindu akan kedamaian
kilat pedang bersahutan tanpa henti hingga senja kala nanti
kuda panglima berlati tanpa henti menebar ancaman
dari baris ke baris yang lain
memberi komando pada barikade pemanah penebar maut
satu komando dan luluh lantah lah harapan
berguguran lah jiwa-jiwa semangat yang tadi nya berkoar
untuk pertempuran ini, yang akan lama...
hingga baris demi baris puisi yang terlantun dalam lembaran kertas ku
adalah sebagian dari penghianat perang
yang melarikan diri dari perang yang panjang inii
mencari celah cahaya harapan tuk di lewati kehidupan,
melarikan diri hingga mega dahsyat pertarungan usai
dan kembali
hanya untuk menabur kasturi, mawar dan melati diatas pusara
pusara sayang raja angkuh yang kalah di pergulatan para kaisar
aku dan segenap sajak sajakku yang melarikan diri
adalah mortir perarungan yang memilih berhianat
berhianat sebelum mati dikhianati dan tak berarti
mengenang debu-debu yang terangkat
antara kaki-kaki prajurit yang saling huns pedang
mengenang peluh keringat dan air mata
yang mengalir menyatu namun terlupakan
mengenang tetesan darah oleh tebasan keris tempaan empu sakti sejagad raya
mengenang setip panah yang terbang mengitari merah saga
dan menghunus angkuh pada rasa sakit
mengenang sangkakala tertiup merobek cakrawala
mengenang desingan pedang yang bersahutan
mengenang kampak dan godam yang memisahkan jasad dan nur kehidupan
mengenang roh roh yang kini terkurung dalam penjara sempit bak lilin lilin kecil
dalam enjara gelap untuk hati para prajurit
mengenang senyuman kosong terakhir dari pasukan pemenang
penuh sesal walau tetap hidup
mengenang dan menganang setiap detik kematian
detik detik yang membunuh para raja ,,,,
tentang tutur tulus setiap bait yang terangkai suci
mengalirkah filosofi begitu deras
dan menghentak bebatuan di dasar sungai dan ujung terdalam gua
aku merasakan rintik hujan bertasbig disetiap tetes nya
desiran angin bersyukur di setiap hembus nya
instrumen tanpa lirik seakan mengalir begitu indah
mengiringi syair perang panjang yang melantun kejam
telinga pekak oleh tabuhan genderang punggawa pertempuran
mata ini kan terus menangis mengenang prajurit demi prajurit
yang merenggan nyawa di tengah rindu akan kedamaian
kilat pedang bersahutan tanpa henti hingga senja kala nanti
kuda panglima berlati tanpa henti menebar ancaman
dari baris ke baris yang lain
memberi komando pada barikade pemanah penebar maut
satu komando dan luluh lantah lah harapan
berguguran lah jiwa-jiwa semangat yang tadi nya berkoar
untuk pertempuran ini, yang akan lama...
hingga baris demi baris puisi yang terlantun dalam lembaran kertas ku
adalah sebagian dari penghianat perang
yang melarikan diri dari perang yang panjang inii
mencari celah cahaya harapan tuk di lewati kehidupan,
melarikan diri hingga mega dahsyat pertarungan usai
dan kembali
hanya untuk menabur kasturi, mawar dan melati diatas pusara
pusara sayang raja angkuh yang kalah di pergulatan para kaisar
aku dan segenap sajak sajakku yang melarikan diri
adalah mortir perarungan yang memilih berhianat
berhianat sebelum mati dikhianati dan tak berarti
mengenang debu-debu yang terangkat
antara kaki-kaki prajurit yang saling huns pedang
mengenang peluh keringat dan air mata
yang mengalir menyatu namun terlupakan
mengenang tetesan darah oleh tebasan keris tempaan empu sakti sejagad raya
mengenang setip panah yang terbang mengitari merah saga
dan menghunus angkuh pada rasa sakit
mengenang sangkakala tertiup merobek cakrawala
mengenang desingan pedang yang bersahutan
mengenang kampak dan godam yang memisahkan jasad dan nur kehidupan
mengenang roh roh yang kini terkurung dalam penjara sempit bak lilin lilin kecil
dalam enjara gelap untuk hati para prajurit
mengenang senyuman kosong terakhir dari pasukan pemenang
penuh sesal walau tetap hidup
mengenang dan menganang setiap detik kematian
detik detik yang membunuh para raja ,,,,
Kamis, 04 Oktober 2012
para kesatria dalam tanda kutip
aku dan generasi kehidupan yang lain
generasi baru dari barisan pemikir hukum kehidupan
dengan keseharian di ladang peradaban
menanam benih benih harapan aspal yang keras
menyirami tanaman dijalan dengan keringat campur darah
menerjang hingga patah pagar besi berduri
berdiri dibawah panas hingga hujan
berlari dari kejaran dan hantaman
berteriak diatas mimbar hingga terkapar
merasa benar dan membakar setenangan
membakar sunyi kedamaian dengan semangat
melempar batu, kayu dan serapah
demikian jalan para kesatria
para kesatria dalam tanda kutip
satu fatwa, asa itu masih ada
membuat semua pemikir beranjak ke jalan yang panas
berkoar-koar hingga serak
berjalan panjang hingga lelah kaki nya
saling dorong dengan sesama, hingga patah tangannya
saling tendang mereka hingga luka persaudaraanya
saling tembak mereka hingga mati kehidupannya
disini kehidupan, mulai suram sejak manusia mulai berbicara
lebih keras dari nabinya bertitah
sejak semua mulai lupa siapa maha pintar
tiada lagi kendali kecuali amarah dan nafsu bejatnya
tiada sadar bahwa kebodohan ini
mereka yang punya kendali
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
:)
puisi di atas mengisahkan tentang apa yang terjadi pada para pejuang jalanan, menyarakan kebenaran sekuat yang mereka bisa dengan cara mereka,
para kesatria dalam tanda kutip adalah julukan yang saya sandangkan pada diri saya dan segenap yang melakukan ini, bahwa kita terkadang menggunakan cara yang kita nilai kesatria, namun kesatria ini tak jarang menyakiti sesama dalam perjuangan yang ia anggap menegakkan keadilan.
perlu diketahui bahwa menyelesaikan masalah ini adalah dengan cara mengetahui masalah sesungguhnya, di bait terakhir saya ungkapkan bahwa semua ini merupakan kesalahan manusia yang telah jauh dari kaidah kebenaran,,,
generasi baru dari barisan pemikir hukum kehidupan
dengan keseharian di ladang peradaban
menanam benih benih harapan aspal yang keras
menyirami tanaman dijalan dengan keringat campur darah
menerjang hingga patah pagar besi berduri
berdiri dibawah panas hingga hujan
berlari dari kejaran dan hantaman
berteriak diatas mimbar hingga terkapar
merasa benar dan membakar setenangan
membakar sunyi kedamaian dengan semangat
melempar batu, kayu dan serapah
demikian jalan para kesatria
para kesatria dalam tanda kutip
satu fatwa, asa itu masih ada
membuat semua pemikir beranjak ke jalan yang panas
berkoar-koar hingga serak
berjalan panjang hingga lelah kaki nya
saling dorong dengan sesama, hingga patah tangannya
saling tendang mereka hingga luka persaudaraanya
saling tembak mereka hingga mati kehidupannya
disini kehidupan, mulai suram sejak manusia mulai berbicara
lebih keras dari nabinya bertitah
sejak semua mulai lupa siapa maha pintar
tiada lagi kendali kecuali amarah dan nafsu bejatnya
tiada sadar bahwa kebodohan ini
mereka yang punya kendali
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
:)
puisi di atas mengisahkan tentang apa yang terjadi pada para pejuang jalanan, menyarakan kebenaran sekuat yang mereka bisa dengan cara mereka,
para kesatria dalam tanda kutip adalah julukan yang saya sandangkan pada diri saya dan segenap yang melakukan ini, bahwa kita terkadang menggunakan cara yang kita nilai kesatria, namun kesatria ini tak jarang menyakiti sesama dalam perjuangan yang ia anggap menegakkan keadilan.
perlu diketahui bahwa menyelesaikan masalah ini adalah dengan cara mengetahui masalah sesungguhnya, di bait terakhir saya ungkapkan bahwa semua ini merupakan kesalahan manusia yang telah jauh dari kaidah kebenaran,,,
Langganan:
Postingan (Atom)


